Setelah babak penyisihan selesai, panitia perlombaan sibuk menyusun jadwal pertandingan. Para peserta diberi waktu untuk beristirahat di sekitar arena. Lynx dan kelompoknya duduk di bawah pohon besar, menikmati angin sore sambil berbincang ringan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Banu, bersama tiga rekan dekatnya, berjalan mendekat dengan senyum sinis di wajah mereka.

"Jadi," kata Banu, memecah keheningan, "kalian berhasil lolos? Aku pikir batu itu akan menghancurkanmu, anak manis." Matanya mengarah langsung ke Lynx.

Narendra yang duduk di samping Lynx langsung menegang. "Apa masalahmu, Banu? Kenapa tidak pergi saja dan tunggu giliran bertanding?"

Banu tertawa keras, begitu juga rekan-rekannya. "Masalahku adalah ada orang-orang seperti kalian di sini, menyia-nyiakan waktu kami yang berharga. Kalian ini hanya pelengkap pertandingan, bukan pesaing sungguhan."

Rira, yang sedang diam saja, akhirnya membuka mulut. "Berhentilah mengganggu kami, Banu. Kalau kau ingin membuktikan sesuatu, lakukan di arena, bukan dengan kata-kata kosong."

Banu mendekat, wajahnya penuh amarah. "Diam kau, Rira. Jangan lupa siapa aku! Aku bisa menghancurkanmu kapan saja. Kau beruntung aku tidak langsung menyeretmu pergi sekarang. "

"Setelah aku diangkat menjadi kepala suku, kamu akan menjadi pendampingku." Kata Banu sambil tertawa.

Kanha, yang sedari tadi asyik memainkan sebatang ranting, tiba-tiba bangkit berdiri. Ia menatap Banu dengan senyum nakal. "Kau ini cerewet sekali, Kak Banu. Apa mulutmu tidak lelah bicara? Atau mungkin itu latihan supaya nanti bisa menangis saat kalah?"

Rekan-rekan Banu marah mendengar ejekan Kanha, dan membuat wajah Banu memerah. "Kau ini bocah sialan!" bentak Banu, mengarahkan tangan seperti hendak mencengkeram Kanha.

Namun, sebelum ia sempat menyentuhnya, Lynx bergerak dengan cepat, berdiri di antara mereka. "Jangan pernah menyentuh anggota kelompokku," katanya, suaranya rendah tapi penuh peringatan.

Banu tertegun sesaat, tapi segera menguasai diri. Ia menyeringai, berusaha menutupi kegugupannya. "Kau cukup cepat. Tapi itu tidak akan membantu di arena nanti. Kita lihat siapa yang masih bisa berdiri saat pertandingan selesai."

"Kau bisa mencoba," balas Lynx dengan nada tenang. "Tapi aku pastikan kau akan menyesali semua ini."

"Beraninya kau!" Banu menggeram, tapi salah satu rekannya menariknya mundur sebelum terjadi keributan lebih lanjut. "Tunggu saja. Aku akan menghancurkanmu, kalian semua!"

Setelah Banu dan kelompoknya pergi, suasana kembali tenang—setidaknya untuk beberapa saat. Namun, tidak lama kemudian, Arkha, kakak Banu yang juga salah satu peserta paling ditakuti, mendekati mereka. Pria itu memiliki tubuh besar dengan otot yang tampak seperti baja. Wajahnya dingin, dan matanya tajam seperti elang.

"Aku ingin bicara," katanya, suaranya dalam dan mengintimidasi.

Narendra berdiri, menatap Arkha dengan tegas. "Apa yang kau inginkan?"

Arkha tidak langsung menjawab. Ia memandangi kelompok mereka satu per satu, seolah menilai mereka. Akhirnya, ia menatap Lynx. "Kalian mungkin lolos penyisihan. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian melangkah lebih jauh. Ini adalah urusan kami, suku Raksa. Orang luar tidak punya tempat di sini."

"Aku bertarung untuk keluarga Rira," balas Lynx dengan tenang. "Aku tidak bertarung untuk diriku sendiri."

Arkha mendekat, berdiri sangat dekat dengan Lynx. "Aku tidak peduli apa alasanmu. Siap-siaplah untuk cacat, atau mati. Aku akan memastikan tidak ada satupun dari kalian yang keluar dari arena dengan tubuh utuh."

Rira yang mendengar itu langsung maju, meskipun ada ketakutan di wajahnya. "Arkha, kau tidak bisa melakukan ini. Lynx ada di sini untuk membantu. Kenapa kau begitu keras kepala?"

"Diam, Rira," kata Arkha dingin. "Aku tidak berbicara denganmu."

Kanha yang tidak bisa menahan diri lagi, berkata dengan suara lantang. "Paman Arkha, kenapa kau repot-repot mengancam? Apa kau takut kalah? Bukankah kau katanya kuat?"

Arkha menoleh ke arah Kanha, wajahnya seperti batu yang tidak berubah. "Anak kecil sepertimu harus tahu kapan harus diam."

Lynx menyentuh bahu Kanha, memberi isyarat untuk tenang. Lalu ia menatap Arkha tanpa gentar. "Kami siap menghadapi apapun yang terjadi di arena. Kalau kau pikir bisa menghentikan kami, lakukanlah di sana."

Arkha mendengus, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Narendra menghela napas panjang. "Orang-orang seperti mereka ini tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan."

Lynx menatap ke arah Arkha yang pergi. "Mungkin. Tapi mereka akan belajar bahwa mereka tidak bisa selalu mendapatkan segalanya dengan cara mereka."

Mereka semua bersiap untuk pertandingan yang akan segera dimulai, mereka mengetahui bahwa tantangan sebenarnya baru saja dimulai.

Langit yang cerah menjadi saksi bagi kerumunan besar suku Raksa yang memenuhi arena pertandingan. Para peserta berbaris di tengah lapangan, sementara penonton bersorak, mengeluarkan ejekan dan dukungan untuk jagoan mereka masing-masing.

Seorang tetua yang bertugas sebagai ketua panitia naik ke panggung sederhana yang terbuat dari kayu. Ia mengangkat tangan, meminta perhatian. “Saudara-saudaraku!” suaranya menggema di seluruh arena. “Hari ini, kita melanjutkan perjalanan mencari pemimpin baru suku Raksa. Namun, sebelum pertandingan dimulai, izinkan aku menyampaikan pengumuman penting.”

Kerumunan langsung terdiam, meskipun suasana tegang masih terasa.

“Karena jumlah peserta kita adalah lima belas orang, maka demi menjaga keseimbangan di babak pertama, akan ada satu peserta yang langsung melangkah ke babak berikutnya. Ini bukan sekadar keberuntungan,” lanjutnya. “Keberuntungan juga merupakan tanda bahwa seseorang ditakdirkan untuk memimpin!”

Suara riuh mulai terdengar. Beberapa peserta tampak bingung, sementara yang lain berbisik-bisik. Lynx hanya berdiri tenang di barisan, sementara Narendra terlihat sedikit gelisah.

“Nama yang terpilih akan diundi secara acak!” Tetua itu mengangkat sebuah kotak kayu kecil yang berisi gulungan nama para peserta. Ia menarik satu gulungan dan membukanya perlahan, membuat kerumunan menahan napas.

Nama yang terpilih keluar dari mulut tetua itu. “Lynx!”

Kerumunan langsung meledak dalam sorakan dan ejekan.

“Ah, dasar keberuntungan!” teriak seseorang dari kerumunan. “Dia bahkan tidak perlu bertarung untuk lolos!”

“Hei, si kecil itu!” teriak seseorang dari kerumunan. “Lihat tangannya! Halus sekali, seperti tidak pernah bekerja keras! Apa kau yakin dia bukan salah masuk tempat?”

Tawa langsung pecah di antara penonton, bahkan beberapa peserta lain ikut tersenyum sinis.

“Benar sekali!” tambah seorang pria tua dengan suara serak dari pinggir arena. “Dia terlihat seperti anak gadis yang hilang, bukan calon pemimpin suku!”

Banu tertawa keras, kali ini menepuk pundak rekan di sebelahnya. “Kalian dengar itu? Anak lembut ini bahkan tidak layak berdiri di sini bersama kita. Kalau dia menang nanti, aku mungkin akan jadi pengikutnya—eh, tapi hanya kalau dia bisa mengangkat senjata lebih berat dari ranting pohon!”

“Lynx, kau pasti menggunakan ramuan pemutih kulit, ya?” ejek seorang peserta dengan rambut panjang acak-acakan. “Pantas saja kau tidak terlihat seperti pejuang! Ah, mungkin itulah alasan kenapa keberuntungan berpihak padamu. Kau terlalu cantik untuk terluka di sini!”

Narendra yang berdiri di sebelah Lynx tampak semakin geram. “Cukup!” serunya dengan suara rendah namun tegas. “Kalian hanya iri karena tidak terpilih.”

Namun, Lynx hanya melirik Narendra dengan senyum tipis. “Biarkan saja,” ucapnya pelan. “Semakin banyak mereka berbicara, semakin mereka menunjukkan ketakutan mereka sendiri.”

Banu, yang berdiri di barisan, langsung tertawa keras bersama rekan-rekannya. “Lihat itu!” katanya sambil menunjuk Lynx. “Anak lembut ini tidak akan bertahan tanpa keberuntungan. Kalau dia bertarung, sudah pasti dia mati!”

Narendra yang mendengar itu mengepalkan tangan, tapi Lynx hanya menoleh padanya dan memberi isyarat tenang.

“Santai saja,” bisik Lynx sambil tersenyum tipis. “Mereka hanya mencari perhatian.”

Banu melanjutkan ejekannya, “Hei, Lynx! Kalau kau berpikir keberuntungan cukup untuk menjadi pemimpin, tunggu saja sampai kau benar-benar bertarung. Kau akan tahu bagaimana rasanya kalah!”

Kerumunan pun ikut tertawa, dan Lynx tetap diam.

Sementara Lynx duduk di tempat istirahat, babak pertama dimulai dengan pertandingan yang sengit. Narendra maju di pertandingan kedua melawan seorang pria besar bernama Torak, terkenal karena kekuatan pukulannya yang bisa menghancurkan kayu besar dalam satu serangan.

Narendra memegang tombaknya erat-erat, sementara Torak membawa kapak batu besar. Arena terasa penuh ketegangan.

“Jangan ragu-ragu, Kak!” Kanha berteriak dari pinggir arena, membuat beberapa penonton tertawa.

Torak maju dengan langkah berat, ayunan kapaknya begitu kuat hingga tanah bergemuruh. Narendra menghindar dengan gesit, memanfaatkan kelincahannya. Lynx yang menonton dari kejauhan mengangguk kecil. “Jangan lawan kekuatan dengan kekuatan,” gumamnya pelan.

Narendra memutar tombaknya, mencari celah. Torak menyerang lagi dengan tebasan horizontal yang hampir mengenai Narendra. Namun, Narendra memanfaatkan ayunan itu untuk melompat ke belakang Torak. Dengan gerakan cepat, ia menusukkan ujung tombaknya ke kaki Torak, membuat pria besar itu terhuyung.

Penonton bersorak keras, sementara Torak berbalik dengan marah. Ia mencoba menyerang lagi, tapi Narendra terus mengelak, membuat pria besar itu semakin frustrasi. Akhirnya, ketika Torak kehilangan keseimbangan, Narendra memukul tangan Torak dengan tombaknya, menjatuhkan kapak dari genggamannya.

Dengan ujung tombak mengarah ke leher Torak, Narendra berdiri dengan tenang. “Menyerahlah,” katanya.

Torak mendengus, tapi akhirnya mengangguk, mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Penonton bersorak, dan Narendra melangkah keluar dari arena dengan penuh kemenangan.

Di pertandingan lain, Banu menghadapi seorang petarung bernama Gelka, yang dikenal dengan gaya bertarung tangan kosongnya yang brutal. Gelka melawan Banu dengan serangan cepat, membuat Banu harus terus bertahan dengan senjatanya.

Namun, Banu memanfaatkan kelicikan dan kekuatannya. Ketika Gelka mencoba menyerang dengan pukulan keras, Banu menangkisnya dengan tombak, lalu memutar tubuh untuk menyerang balik. Serangan Banu mengenai Gelka di rusuk, membuatnya jatuh ke tanah.

“Jangan pernah meremehkanku,” kata Banu dengan suara dingin sebelum mengarahkan tombaknya ke dada Gelka. Gelka menyerah, dan Banu melangkah keluar dari arena dengan penuh kebanggaan.

Arkha juga memenangkan pertandingannya dengan mudah melawan seorang pria tua yang masih ingin membuktikan dirinya. Dengan kekuatan luar biasa, Arkha hanya membutuhkan tiga pukulan untuk membuat lawannya tidak bisa bangun lagi. Penonton terdiam, terpesona oleh kekuatan brutalnya.

Ketika pertandingan babak pertama selesai, panitia mulai menyusun daftar peserta yang lolos. Lynx, Narendra, Banu, Arkha, dan beberapa peserta lainnya dipanggil untuk berkumpul.

“Pertandingan berikutnya akan dimulai esok hari,” kata tetua panitia. “Bersiaplah, karena ini akan lebih sengit daripada babak pertama!”

Lynx berdiri di samping Narendra dan Rira, memperhatikan wajah-wajah lawannya. Arkha menatap mereka dengan senyum dingin, sementara Banu kembali menyeringai penuh ejekan.

“Besok, kau tidak akan seberuntung ini lagi, Lynx,” kata Banu dengan nada tajam.

Narendra melangkah maju, membalas dengan tenang. “Kami akan buktikan bahwa kami di sini bukan hanya untuk keberuntungan. Tunggu saja.”

Arkha hanya menatap mereka tanpa berkata apa-apa, tapi ancamannya terasa jelas di udara. Babak berikutnya akan menjadi lebih keras, dan Lynx tahu mereka harus bersiap.


